Menu Click to open Menus
TRENDING
Home » Informatif » Biografi Kehidupan Tentang Wartawan Senior Yousri Raja Agam

Biografi Kehidupan Tentang Wartawan Senior Yousri Raja Agam

(38 Views) May 23, 2022 6:34 pm | Published by | No comment

SuaraJakarta.News – Assalamu’alaikum Warohmatullohi wabarokatuh.

Salam Sejahterah buat semuanya.
Rakyat Indonesia.

Sedikit berbagi informasi, tentang saya? Oh tidak masalah. Saya bernama Yousri lengkapnya: HM Yousri Nur Raja Agam. Asal dari Padanglua, Bukit Tinggi, Kecamatan Banuhampu, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Suku Sikumbang. Lahir dan besar di Rantau.

Ayah saya bernama Ahmad Jamirus Bastemar Datuk Rajo Labiah, ibu saya Hj.Nurmanis binti Zakaria.

Ceritanya, sewaktu kecil ayah saya dibesarkan di Kuala Lumpur, Malaysia bersama dua adiknya: Muhammad Zain dan Ny. Arjuna. Nah, sang kakek saya itu, di Kuala Lumpur lebih dikenal dengan sapaan Datok Raja Lebeh dan nenek saya yang bernama Jaolan, di kampung lebih popular dengan panggilan “Jao Kolang” (arti nenek Jao dari Kuala Lumpur).

Menjelang Indonesia Merdeka di Tahun 1943, saat Balatentara Jepang masuk ke Indonesia.

Ahmad Jamirus muda pulang ke Padanglua. Ia menuntut ilmu di Sumatera Thawalib-Parabek. Ibu saya juga sejak kecil hidup di perantauan, kakek saya H.Zakaria bekerja di BPM Pulau Sambu dekat Singapura di zaman Belanda. Sewaktu Jepang masuk ke Indonesia tahun 1943. Kakek Zakaria pindah ke Palembang. Di sana ia membuka Rumah Makan Minang.

Saat Proklamasi Kemerdekaan RI dikumandangkan, Nurmanis muda dibawa pulang ke kampung halamannya di Sikumbang, Padanglua.

Sebagai gadis remaja yang cerdas dan agresif, ia bergabung dalam organisasi perjuangan Putri Kesatria.

Jodoh memang di tangan Allah Swt, sesama aktivis perjuangan antara Ahmad Jamirus dengan Nurmanis terjadi kontak batin.

Begitu keadaan Negara ini mulai *agak aman

Orangtua ke dua pemuda-pemudi ini sesuai dengan adat bersendi syarak dan syarak yang bersendikan kitabullah, di Ranah Minang itu mengikat mereka berdua dalam suatu keluarga yang bahagia.

Ahmad Jamirus bersama Nurmanis yang sama-sama kecil dan dibesarkan di peranyaian, berangkat pula merantau. Di Bengkalis Riau, di sanalah Aku Dilahirkan pada hari Jum’at, tanggal 20 Oktober 1950, pukul 12.00 Wsu. (Waktu Sumatera Utara) — sebab waktu itu belum ada WIB (Waktu Indonesia Barat) seperti sekarang ini.

Ayah ku yang sudah bersiap-siap menuju Masjid untuk melaksanakan Shalat Jumat, terlebih dahulu mengumandangkan Azan di Rumah Sakit “milik yayasan Katholik” di Kota Bengkalis itu. Konon, inilah Azan pertama yang berkumandang di RumahSakit itu, karena sebagai Guru Agama Islam, ayah saya yakin perbuatannya itu tidak akan dilarang.

Kenyataannya, kata ibu saya, pemilik RumahSakit itu justru berterimakasih.

Sebab, sejak saat itu banyak orang Islam yang berkunjung, berobat dan melahirkan ke RS itu. Ayah saya segera menuju Masjid.

Kebetulan tema khutbah Jumat itu “Sesungguhnya di Bakil kesusahan itu ada Kemudahan” :(Innama al’usyri yousra, fainna ma al’usyri yousra). Sepulang dari shalat Jumat dengan rasa gembira ayah saya bercerita tentang khutbah yang baru didengarkannya kepada ibu saya. Spontan saja, ibu saya mengusulkan nama bayi laki-lakinya yang baru lahir YOUSRI. Ayah saya setuju, sembari memberi jawaban menghibur, “nanti kalau anak kita yang kedua lahir kita beri nama Yousra”. Alhamdulillah, tanggal 28 Februari 1952 adik saya laki-laki lahir dan diberi nama Yousra. Dan satu lagi adik saya perempuan, lahir 18 Februari 1954, diberi nama Yousnetty.

Setelah “napak tilas” merantau ke berbagai kota di Riau, menyeberang ke Singapura dan Malaya (belum bernama Malaysia).

Menyeberang ke Palembang menyusul kakek. Tahun 1956 dibawa pulang ke Padanglua, Bukittinggi. Tahun 1957.
Saya masuk SR (sekarang SD) Negeri II (Teladan) Padanglua dengan Kepala Sekolahnya: Bapak Sjaiful Anwar. Setelah lulus tahun 1963, melanjutkan ke SMP Negeri 1 Bukittinggi dan lulus tahun 1966. Pada tahun 1967, melanjutkan ke STM Kimia Tekstil di Bukittinggi, lulus tahun 1969.

Bak pepatah orang Minang: “Karatau madang di hulu, babuah babungo balun – marantau bujang dahulu, di rumah baguno balun”, artinya (diwajibkan) bagi anak bujang merantau lebih dahulu, karena di rumah belum ada gunanya karena itu, harus menuntut ilmu dan mencari bekal hidup di perantauan.
Tahun 1970, saya menginjakkan kaki di Kota Bandung, kuliah di Akademi Tekstil sampai tahun 1974. Berbekal ilmu yang langsung dapat dipraktikkan, saya bekerja di PT. Indomill Tekstil, Surabaya.
Kebetulan, sewaktu di Bukittinggi saya gemar membaca dan menulis. Sering ikut lomba mengarang dan menang.
Hasil karyanya dimuat di Surat Kabar.
Saat kuliah di Bandung, ikut coaching pers IPMI (Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia) Bandung, ikut jadi wartawan “Bulletin IPMI” dan SuratKabar Mingguan “Mimbar Demokrasi”: Pimpinan Adi Sasono.
Juga berani menerbitkan majalah “Pembina” – bersama Ketua HMI Cabang Bandung, Abdullah Puteh. Juga menerbitkan dan menjadi Pemimpin redaksi majalah “Widya Corps” informasi internal Resimen Mahawarman Yon VI (Gabungan Akademi, Sekolah Tinggi dan Istitut di Bandung).

Nah, di Surabaya sembari menduduki jabatan yang agak lumayan di pabrik tekstil, merangkap pula menjadi wartawan SuratKabar Pelita Kota yang kemudian ganti nama menjadi Harian Radar Kota (1977-1980). Kemudian dipercaya menjadi wartawan dan Kepala Perwakilan Harian Ekonimi Jurnal Ekuin Jakarta untuk Wilayah Jawa Timur (1981-1983). Alhamdulillah, setelah kuliah di Institut Ilmu Hukum dan Pengacara (IIHP), kemudian STIH (Sekolah Tinggi Ilmu Hukum), pada tahun 1981 ini saya lulus pula dalam mengikuti ujian Pengacara Praktek di Pengadilan Tinggi Jawa Timur.

Sejak tahun 1981 itu, aktif sebagai Pengacara atau Penasihat Hukum, dan bersama-sama para pengacara senior mendirikan LBH (Lembaga Bantuan Hukum) Kosgoro Jatim, kemudian ikut pula mendirikan IPHI (Ikatan Penasihat Hukum Indonesia) Pusat dan Jawa Timur. Kegiatan di pabrik tekstil tempat saya bekerja mulai menurun.
Saya pun bekerja penuh sebagai wartawan dan pengacara.
Koran Harian Jurnal Ekuin “dibredel”, kemudian saya dipercaya sebagai Redaktur Pelaksana SuratKabar “Surabaya Minggu”, lalu menjadi wartawan dan kepala perwakilan Harian Jayakarta Jakarta untuk wilayah Jawa Timur.

Pekerjaan wartawan dan pengacara saya rangkap sampai tahun 1998. Di era reformasi hingga sekarang, bersama kawan-kawan terjun ke dunia usaha, sembari tetap tidak absen di dunia jurnalistik.

Selain menjadi Wakil Pemimpin Redaksi SuratKabar “Koran Dor” dan Pemimpin Redaksi “Majalah Dor”, saya dipercaya oleh PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) Jawa Timur menduduki jabatan Sekretaris Dewan Kehormatan Daerah PWI Jatim bersama Prof Dr. H. Sam Abede Pareno dan RM Yunani Prawira Negara.

Beberapa penerbitan sejak beberapa tahun lalu, juga mempercayai saya duduk sebagai pengasuh MediaMassa dengan jabatan: Penasehat Redaksi atau Dewan Redaksi pada Surat Kabar Mingguan (SKM) “Investigasi”, SKM “Suara Publik”, SKM “Timur Pos”, SKM “Lintas Kota”, SKM “Soerabaia Newsweek”, Tabloid “Palapa Post”, Tabloid “Wahana”, Tabloid “Orbit”, Tabloid “Strategi”, Tabloid “Fokus”, Tabloid “Suara Persada”, Tabloid “Radja Warta” dan Majalah KIRANA.
Dalam Oraganisasi politik, sosial, ekonomi dan kemasyarakatan, saya ikut pula dalam kepengurusan PWI Jatim (mantan Wk.Sekretarisw dan mantan Wk. Ketua), Partai Golkar (Wk. Ketua DPD Surabaya), PDK Kosgoro dan kemudian PDK Kosgoro 1957 Jatim (Wk. Ketua), DPW Angkatan 66/Laskar Ampera Arief Rachman Hakim Jatim (Wk. Ketua), Gebu Minang Jatim (Wk. Ketua). Yayasan Natazaa Press (Ketua), Yayasan Peduli Surabaya (Ketua) Yayasan Setya Media (Ketua), Yayasan Gebu Minang (Ketua Pengawas dan Mantan Wakil Ketua) Koperasi Angkutan Arief Rachman Hakim (Mantan Sekretaris), Koperasi Bina Muslimin Indonesia (Mantan Ketua), Koperasi Pena Emas PWI Jatim (Ketua).

Isteri:

Ismarini (1958).

Anak:

Rima Yulia Natazza, S.H. (1978), Muhammad Yudhitia Saputra (1979), Muhammad Yudha Israputra, Amd (1985).

(Redaksi)

Categorised in: ,

No comment for Biografi Kehidupan Tentang Wartawan Senior Yousri Raja Agam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *